Rangkuman Berita Timteng Jumat 2 Februari 2018

Liga Arab Ahmed Aboul GheitJakarta, ICMES: Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menegaskan bahwa mengusik masa depan kota Al-Quds (Yerussalem) tak ubahnya dengan “bermain api” dan tidak akan pernah diterima oleh orang Arab, baik Muslim maupun Kristen.

Penasehat senior Pemimpin Besar Iran urusan internasional, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa eksistensi Iran di Timteng “tak terhindarkan” lagi, dan akan terus mendukung Hizbullah dan resistensi Palestina terhadap Israel.

Amerika Serikat (AS) menyatakan siap menempuh lagi tindakan militer terhadap tentara Suriah jika dirasa perlu demi mencegah apa yang disebut Washington sebagai penggunaan senjata kimia dan kekuatiran bahwa Suriah mengembangkan metode baru untuk menghasilkan senjata terlarang ini.

Sedikitnya lima tentara Arab Saudi tewas terkena serangan tentara Yaman dan pasukan Komite Rakyat di wilayah perbatasan Arab Saudi di Jizan.

Berita selengkapnya:

Sekjen Liga Arab: Mengusik Al-Quds Sama Dengan Bermain Api

Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menegaskan bahwa mengusik masa depan kota Al-Quds (Yerussalem) tak ubahnya dengan “bermain api” dan tidak akan pernah diterima oleh orang Arab, baik Muslim maupun Kristen.

Dalam pertemuan para menlu Arab mengenai Al-Quds di Kairo, Kamis (1/2/2018), dia menyebut pertemuan ini “kesempatan untuk mengevaluasi lagi situasi mengenai Al-Quds”, memastikan bahwa pendirian kolektif Arab dalam masalah ini sudah jelas bagi semua orang, dan menilai sikap Eropa terhadap isu Palestina “positif dan terpuji”.

Aboul Gheit menegaskan bahwa mengusik status Al-Quds merupakan “ajakan untuk menggelincirkan kawasan kepada konflik bernuansa agama, kekerasan, dan terorisme.”

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu telah merilis keputusan Washington mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel, dan karena itu pula dia juga memutuskan pemindah Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds.

Dalam pertemuan di Kairo tersebut, Menlu pemerintahan otonomi Palestina, Riyad Al-Maliki, menyebut keputusan Trump itu “zalim dan bodoh” serta menimbulkan berbagai konsekuensi yang melanggar undang-undang internasional dan mengabaikan seperempat juta orang Palestina yang tinggal di Al-Quds.

“Al-Quds akan tetap menjadi ibu kota abadi bagi negara Palestina, dan siapapun tak dapat mengusik status dan sentralitasnya yang sah. Keputusan AS merupakan benturan besar bagi semua iktikad baik yang pernah kami harapkan dari AS untuk penyelesaian yang dapat diterima bagi konflik Arab-Israel,” terangnya.

Dia menambahkan, “Orang yang mengambil keputusan itu mengira bahwa dia dapat menyingkirkan Al-Quds dari meja perundingan. Tapi Al-Quds tetap akan menjadi ibu kota kami untuk selamanya, dan keputusan Trump telah menyudahi peranan AS dalam mendukung proses perdamaian dan merupakan keruntuhan baru dan parah bagi kejujurannya dalam berperan di tengah masyarakat internasional.”

Sebelumnya, Menlu Yordania Ayman Safadi yang memimpin pertemuan di Kairo tersebut telah menyodorkan kepada para anggota Komisi Inisiasi Perdamaian Arab ringkasan hasil pergerakan delegasi menteri Arab yang dimulai setelah pertemuan sejumlah menlu Arab dan Sekjen Liga Arab di Amman, ibu kota Yordania, pada Desember 2017 dengan tujuan melawan keputusan Trump.

Komisi Inisiasi Perdamaian Arab dipimpin oleh Yordania dan dianggotai oleh Bahrain, Tunisia, Aljazair, Arab Saudi, Sudan, Irak, Palestina, Qatar, Kuwait, Lebanon, Mesir, Maroko, dan Yaman serta Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit. (alyoum7)

Velayati Nyatakan Eksistensi Iran Di Timteng “Tak Terhindarkan”

Penasehat senior Pemimpin Besar Iran urusan internasional, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa eksistensi Iran di Timteng “tak terhindarkan” lagi, dan akan terus mendukung Hizbullah dan resistensi Palestina terhadap Israel.

Dalam sebuah konferensi dukungan untuk intifada Palestina yang di Masyhad, Iran, Kamis (1/2/2018), dia menjelaskan bahwa Iran bangga karena dukungannya kepada kubu resistensi dapat “melumpuhkan agresi Rezim Zionis (Israel) terhadap Gaza dan Lebanon.”

“Hizbullah sekarang berada dalam kondisi di mana para politisi Rezim Zionis berusaha menghindari konflik dengan Hizbullah seperti konfliknya pada Perang Juli,” lanjut Velayati.

Menurutnya, Iran menolak mentah-mentah segala bentuk tekanan yang mengaitkan kesepakatan nuklirnya dengan pembatasan proyek rudal atau eksistensinya di Timteng.

“Eksistensi Iran di kawasan merupakan perkara yang tak dapat dihindari, dan kami akan terus melanjutkannya demi mempertahankan unsur yang lebih efektif di Timteng…. Eksistensi kami di Irak, Suriah, Palestina, dan Lebanon dilakukan sesuai keinginan pemerintah negara-negara ini. Demikian pula jika kami menyokong Yaman, hal ini bertolak dari tugas kemanusian, “ terangnya.

Mengenai serangan Arab Saudi terhadap Yaman, dia mengingatkan bahwa keterlibatan Saudi dalam perang Yaman akan membuat Saudi mengalami petaka seperti yang dialami Amerika Serikat (AS) di Vietnam.

“Arab Saudi hendaknya berharap akan melihat Yaman berubah menjadi Vietnam baginya, “katanya.

Mengenai perkembangan di Suriah, Velayati mengatakan bahwa pemerintah AS pasti akan gagal memecah Suriah seperti kegagalannya dalam upaya serupa di Irak. (rayalyoum/tasnimnews)

 

AS Mengancam Akan Menyerang Suriah Lagi Terkait Senjata Kimia

Amerika Serikat (AS) menyatakan siap menempuh lagi tindakan militer terhadap tentara Suriah jika dirasa perlu demi mencegah apa yang disebut Washington sebagai penggunaan senjata kimia dan kekuatiran bahwa Suriah mengembangkan metode baru untuk menghasilkan senjata terlarang ini. Demikian dikatakan seorang pejabat senior AS, Kamis (1/2/2018).

Kepada wartawan dia mengatakan bahwa pasukan loyalis Presiden Suriah Bashar Al-Assad masih menggunakan senjata kimia dalam jumlah yang sedikit sejak kasus serangan mematikan pada April tahun lalu yang telah membangkitkan reaksi serangan rudal AS terhadap sebuah pangkalan udara Suriah.

Pejabat anonim itu mengklaim bahwa jika masyarakat internasional tidak bertindak cepat untuk meningkatkan tekanan terhadap Al-Assa maka senjata kimia Suriah dapat menyebar hingga ke berbagai penjuru dunia, bahkan AS.

“Ini akan menyebar jika kita tidak dilakukan sesuatu,” katanya.

Di hari yang sama lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) melaporkan bahwa tentara Suriah telah menyerang kawasan sekitar kota Duma di Ghota Timur dengan empat rudal yang menyebabkan gejala sesak nafas pada empat orang yang tiga di antaranya dilarikan ke rumah sakit.

“Penduduk lantas menuding pasukan pemerintah menyasar mereka dengan rudal yang mengandung gas klorin,” ungkap SOHR.

Sejak Suriah dilanda perang pada Maret 2011 tentara Suriah berulangkali dituduh menggunakan senjata kimia yang satu di antaranya menyebabkan kematian rutusan warga sipil di dekat Damaskus pada tahun 2013.

Tuduhan lainnya yang paling menghebohkan ialah bahwa tentara Suriah melancarkan serangan udara ke kota Khan Shikhoun di bagian utara negara ini dengan senjata kimia hingga menyebabkan 83 orang tewas, termasuk 28 anak kecil, pada 4 April 2017. Dua hari kemudian kapal perang AS menyerang pangkalan udara Al-Sheirat di bagian tengah Suriah dengan beberapa rudal Tomahawk hingga menewaskan sejumlah tentara Suriah.

Pemerintah Suriah menepis keras tuduhan tersebut.  Rusia yang bersekutu dengan Suriah juga membantah tuduhan itu dengan mengingatkan bahwa AS juga pernah melontarkan tuduhan bahwa di Irak pada era mendiang Saddam Hossein terdapat senjata kimia, tapi kemudian terbukti bahwa tuduhan ini ternyata dusta belaka.  Menurut Rusia, AS bermaksud mengulangi skenario itu terhadap Suriah. (middleeasteye/rayalyoum)

Lima Tentara Saudi Tewas Digempur Pasukan Yaman

Sedikitnya lima tentara Arab Saudi tewas terkena serangan tentara Yaman dan pasukan Komite Rakyat di wilayah perbatasan Arab Saudi di Jizan.

Sumber anonim militer Yaman mengatakan kepada TV Al-Masirah milik Ansarullah (Houthi) bahwa pasukan Yaman dan Komite Rakyat telah menggempur tentara Saudi  dengan peluru senapan mesin di desa Hamezah, markas militer al-Farizeh, dan di dekat desa lain bernama Quwa, Kamis malam (1/2/2018).

Pasukan Yaman itu juga melepaskan serangkaian tembakan artileri pada sebuah tempat pertemuan pasukan Arab Saudi di pegunungan Qais dan al-Haskoul di Jizan, namun tidak ada laporan segera mengenai akibatnya.

Secara terpisah, unit artileri Yaman menggempur sebuah tank Saudi di pangkalan militer al-Sadis di wilayah Najran, 844 kilometer selatan Riyadh.

Di pihak lain, jet tempur Saudi melancarkan empat serangan udara terhadap distrik Harf Sufyan di provinsi Amran, Yaman barat laut, dan dua serangan udara terhadap distrik Haydan dan Saqayn di provinsi Sa’ada, Yaman barat laut, namun belum ada laporan mengenai korban yang mungkin jatuh akibat serangan ini.

Sedikitnya 13.600 orang terbunuh akibat invasi militer Saudi terhadap Yaman sejak tahun 2015 sampai sekarang.  Invasi ini juga menimbulkan kehancuran pada infrastruktur Yaman, termasuk rumah sakit, sekolah dan pabrik, serta menyebabkan merebaknya wabah kolera yang mematikan di Yaman. (presstv)