Rangkuman Berita Timteng Jumat 16 Maret 2018

peta-kekuasaan-di-ghouta-timurJakarta, ICMES: Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) menyatakan Pasukan Arab Suriah (SAA), Kamis (15/3/2018), berhasil menguasai lebih dari 70 persen wilayah Ghouta Timur, provinsi Damaskus.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman (MbS) dalam wawancara dengan saluran TV CBS menyatakan bahwa jika Iran mengembangkan senjata nuklir maka Saudi “akan melakukan tindakan serupa secepatnya”.

Dalam beberapa hari terakhir pernyataan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan intensitas peringatan dari Rusia mengenai kemungkinan Amerika Serikat (AS) menggunakan isu penggunaan senjata kimia di Ghouta Timur oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) dinilai oleh jurnalis senior Arab Abdel Bari Atwan sebagai perkembangan krusial dalam krisis Suriah sehingga perkembangan selanjutnya dalam beberapa hari atau minggu ke depan bisa jadi akan fatal.

Selengkapnya:

SOHR: Tentara Suriah Kuasai Lebih Dari 70% Wilayah Ghouta Timur

Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) menyatakan Pasukan Arab Suriah (SAA), Kamis (15/3/2018), berhasil menguasai lebih dari 70 persen wilayah Ghouta Timur, provinsi Damaskus.

Kemajuan ini dicapai SAA setelah menguasai Hamouriya, salah satu kota di bagian wilayah Ghouta Timur yang dikuasai oleh kelompok militan Failaq al-Rahman.

Rusia menegaskan pihaknya akan terus memberikan dukungan militer kepada operasi SAA di Ghouta Timur yang terkepung SAA. Menlu Rusia Sergey Lavrov di Moskow, Kamis, mengatakan, “Kami akan terus mendukung pemberantasan teroris dan kami akan mengalahkan mereka. Kami akan mengalahkan mereka di Ghouta Timur di mana tentara Suriah melancarkan operasi dengan dukungan kami.”

SAA memasuki Hamouriya pada Rabu malam dalam serbuan yang dibarengi dengan serangan udara sengit.

SAA memulai operasi militer ke Ghouta Timur pada 18 Februari lalu, dan sejauh ini sebanyak 12.000 orang telah mengungsi dari Hamouriya dan kawasan sekitarnya bersamaan dengan gerak maju SAA ke Hamouriya dan dibukanya jalur evakuasi.

SOHR mencatat angka ini sebagai yang terbesar sejak SAA memulai operasi militernya di Ghouta Timur. Penduduk berbondong meninggalkan Hamouriya, Kfar Batna, Sabqa, dan Jasreen yang selama ini menjadi markas kelompok Failaq al-Rahman.

Lembaga Bulan Sabit Merah Suriah telah mengirim bantuan kemanusiaan lagi ke kawasan Douma di Ghouta Timur. Bantuan sebanyak 25 truk itu terdiri atas bahan makanan, dan dikirim dengan kerjasama Palang Merah dan PBB.

Bantuan ini merupakan yang kedua kalinya dalam 10 hari terakhir, sementara bantuan yang pertama dikirim melalui dua tahap. (rayalyoum/alalam)

Bin Salman: Saudi Segera Siapkan Bom Nuklir Jika Iran Memiliki Senjata Ini

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman (MbS) dalam wawancara dengan saluran TV CBS menyatakan bahwa jika Iran mengembangkan senjata nuklir maka Saudi “akan melakukan tindakan serupa secepatnya”.

Dalam wawancara yang sebagian isinya disiarkan Kamis (15/3/2018) itu MbS yang akan menemui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Maret mendatang juga melontarkan pernyataan pedas terhadap Teheran dengan menyerupakan Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei  dengan pemimpin NAZI Jerman Adolf Hitler.

Dia memastikan bahwa Saudi dapat meraih senjata nuklir secepatnya jika Iran mengembangkan senjata destruksi massal nomor wahid ini.

“ Iran bukanlah tandingan bagi Saudi, karena pasukan Iran tidaklah lebih kuat daripada lima besar pasukan terkuat di dunia Islam, dan ekonomi Saudi juga lebih besar daripada ekonomi Iran,” ujarnya.

Mengenai mengapa dia membandingkan Ayatullah Khamenei dengan Hitler, dia mengatakan, “Jelas, karena dia menginginkan ekspansi, ingin mengadakan proyeknya sendiri di Timur Tengah sehingga lebihmenyerupai Hitler yang pernah ingin berekspansi. Banyak negara di dunia dan Eropa semula tidak menyadari bahaya Hitler hingga terjadilah apa yang telah terjadi. Saya tidak ingin kejadian yang sama terjadi di Timteng.”

Mengenai bom nuklir dia mengatakan, “Kerajaan Arab Saudi tidak ingin mendapatkan bom nuklir, tapi tak syak lagi bahwa jika Iran mengembangkan bom nuklir maka kami akan melakukan tindakan yang sama secepat mungkin.” (rayalyoum/alalam)

Rusia Siap Bertempur Dengan AS Di Suriah

Dalam beberapa hari terakhir pernyataan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan intensitas peringatan dari Rusia mengenai kemungkinan Amerika Serikat (AS) menggunakan isu penggunaan senjata kimia di Ghouta Timur oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) dinilai oleh jurnalis senior Arab Abdel Bari Atwan sebagai perkembangan krusial dalam krisis Suriah sehingga perkembangan selanjutnya dalam beberapa hari atau minggu ke depan bisa jadi akan fatal.

Assad menyatakan pantang mundur dalam perang melawan teroris meskipun Barat membuat skenario untuk menyerang Suriah, sementara Menlu Rusia Sergey Lavrov dalam statemen resminya menyesalkan eskalasi ancaman militer AS secara sepihak terhadap Suriah dan memastikan bahwa Negeri Beruang Merah akan mengambil tindakan yang diperlukan jika AS menyerang pemerintah Suriah karena serangan ini dapat mencelakakan para penasehat Rusia yang ada di Damaskus dan posisi-posisi Kemhan Suriah.

Atwan dalam artikelnya di media online Ray al-Youm yang dipimpinnya, Rabu (14/3/2018), mencatat bahwa selama krisis Suriah yang sudah berlangsung tujuh tahun baru sekarang Rusia menyebutkan nama sasaran yang berpotensi diserang AS dan kemudian memberikan peringatan soal ini.

Suhu krisis Suriah memanas manakala kepala staf militer Rusia Jenderal Valery Gerasimov mengaku “memiliki informasi akurat bahwa kelompok-kelompok oposisi telah menyiapkan skenario serangan kimia oleh pasukan pemerintah terhadap warga sipil.”

Dia menilai hal ini diperkuat oleh adanya “temuan laboratorium pembuatan senjata kimia di distrik Aftaris yang telah berhasil dibebaskan dari para teroris”, dan di beberapa distrik Ghouta Timur “sudah ada para aktor laki-laki, anak kecil, dan lansia untuk diperankan sebagai korban serangan kimia”, sementara “sebuah tim televisi dengan sarana siaran via satelit” juga sudah ada di tempat.

Tuduhan bahwa SAA menggunakan senjata kimia bukanlah kabar baru, melainkan sesuatu yang bahkan sudah pernah dieksekusi oleh AS dengan menyerang pangkalan udara Shayrat di provinsi Homs pada tahun 2017 dengan 59 rudal Cruise dengan dalih menghukum tentara Suriah atas apa yang disebutnya penggunaan senjata terlarang itu di kota Khan Shekhoun, provinsi Idlib. Namun, menurut Atwan, sesuatu yang baru sekarang ialah disebutkannya Damaskus sebagai sasaran, padahal ibu kota Suriah ini sudah sekian tahun terlindungi oleh “kesefahaman” antar kekekuatan besar dunia.

Rusia mengantongi informasi mengenai kemungkinan AS melanggar garis merah dan melancarkan serangan udara yang bukan lagi sekedar unjuk gigi seperti ketika ia melesatkan lusian rudal ke pangkalan udara Sheyrat. Karena itu Rusia lantas memberikan isyarat tegas bahwa jika serangan itu terjadi maka Rusia akan bereaksi dengan dalih melindungi para penasehatnya.

Trump sendiri sudah dikenal sebagai sosok yang angkuh dan ceroboh, apalagi setelah baru-baru ini dia memecat Rex Tillerson dari jabatan Menlu AS dan menggantinya dengan sosok rasialis garis keras Mike Pompeo. Para menterinya juga menilanya tidak akan segan-segan membatalkan perjanjian nuklir dengan Iran dan menabuh genderang perang terhadap Iran sekaligus Suriah.

Menurut Atwan, jika AS jadi menyerang Suriah maka di tahap awalpun reaksi Rusia bisa jadi tidak sebatas menangkis rudal AS dan menjatuhkan jet tempurnya melainkan juga akan menyerang tentara AS yang bercokol di Suriah utara, apalagi jika ada penasehat militernya yang sampai menjadi korban serangan AS.

Dengan demikian, lanjut Atwan, krisis Suriah yang sudah memasuki tahun ke-8 kini semakin memanas. Keberhasilan kubu Rusia-Suriah-Iran di lapangan serta asumsi bahwa AS akan mundur kini terancam oleh kemungkinan AS menabuh genderang perang dan enggan menerima kekalahan dalam perang proksi sehingga membuat pertimbangan-pertimbangan baru yang menandai memuncaknya persiteruan hebat antara kubu Rusia dan kubu AS. (mm/rayalyoum)