Rangkuman Berita Timteng Jumat 14 September 2018

konferensi di gazaJakarta, ICMES: Faksi-faksi pejuang Palestina dalam sebuah konferensi tingkat nasional yang di selenggarakan di Gaza menyatakan penolakannya terhadap Perjanjian Oslo yang sudah berusia 25 tahun.

Para aktivis Suriah mengabarkan bahwa Turki telah memperkenankan 185 unit truk pengangkut senjata, amunisi, dan perlengkapan perang bergerak menuju kelompok-kelompok ekstremis yang tersebar di provinsi Idlib.

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Ali Jafari menyatakan negaranya mengalami “surplus” rudal berpresisi tinggi dan berjarak tempuh 2000 kilometer.

Berita selengkapnya;

Setelah 25 Tahun, Faksi-Faksi Pejuang Palestina Menolak Perjanjian OSLO

Faksi-faksi pejuang Palestina dalam sebuah konferensi tingkat nasional yang di selenggarakan di Gaza, Kamis (13/9/2018), menyatakan penolakannya terhadap Perjanjian Oslo yang sudah berusia 25 tahun.

Mohammad al-Hindi, tokoh gerakan Jihad Islam Palestina, dalam konferensi ini menegaskan, “Perunding Palestina telah membayar harga penuh akibat perjanjian ini dan menangguhkan urusan-urusan primer demi memuaskan musuh. 80% wilayah Palestina telah menjadi Israel dengan tandatangan perunding Palestina, dan sisanyapun juga di tangan Israel melalui pemaksaannya untuk kebijakan politik kongkret terhadap orang-orang Palestina.”

Al-Hindi menyerukan pembatalan Perjanjian Oslo, penghentian perpecahan, rekonstruksi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dan menegaskan bahwa tahapan yang ada sekarang masih berkutat pada upaya pembebasan nasional bersama keharusan peluncuran dialog nasional secara menyeluruh dan mencakup semua faksi.

Dia juga menyebut Gaza sebagai formula resistensi dan penolakan terhadap segala perjanjian yang menistakan bangsa Palestina.

Penolakan yang sama dalam konferensi itu juga ditegaskan oleh tokoh Front Rakyat Pembebasan Palestina (PLFP), Hani al-Thawabteh, sembari menyerukan pembangunan strategi baru untuk melawan Perjanjian Oslo.

Dia menilai Perjanjian Oslo diteken “di belakang punggung rakyat”, dan “orang yang meneken perjanjian ini mengemban tanggungjawab nasional dan historis.” Karena itu, dia menyerukan kampanye nasional untuk pemboikotan Israel dan pencabutan Perjanjian Oslo. (alalam)

Turki Dikabarkan Membiarkan 185 Truk Senjata Bergerak Ke Idlib

Para aktivis Suriah mengabarkan bahwa Turki telah memperkenankan 185 unit truk pengangkut senjata, amunisi, dan perlengkapan perang bergerak menuju kelompok-kelompok ekstremis yang tersebar di provinsi Idlib di bagian barat laut Suriah.

Media Suriah, Kamis (13/9/2018), mengutip pernyataan para aktivis bahwa Ankara membiarkan truk-truk militer itu bergerak menuju kelompok bernama Jabhat al-Wathaniyyah di provinsi Idlib serta pinggiran provinsi Hama dan sekitarnya.

Mereka menyebutkan bahwa truk itu mengangkut perlengkapan militer, amunisi, dan senjata, termasuk roket. Konvoi truk itu dimasukkan dari pintu perbatasan Kfar Lusin yang dibuka oleh otoritas Turki ketika mendirikan titik-titik pemantau milik pasukan Turki di provinsi Idlib. (rt)

IRGC: Iran Surplus Rudal Berpresisi Tinggi Dan Berjarak Jelajah 2000 Kilometer

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Ali Jafari menyatakan negaranya mengalami “surplus” rudal berpresisi tinggi dan berjarak tempuh 2000 kilometer.

Seperti dilansir al-Alam, Kamis (13/9/2018), saat menyebutkan hal itu Jafari menyatakan simpanan rudal itu memberi Iran kemampuan tersendiri untuk melawan kaum arogan atau “mustakbirin” dunia.

“Pihak-pihak yang pangkalan dan pasukannya berada di sekitar Iran dengan radius 2000 kilometer hendaknya mengetahui bahwa rual-rudal IRGC memiliki presisi tinggi,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa IRGC telah membalas darah martirnya, Makhfar Marivan dan beberapa orang lain yang terbunuh di provinsi Kurdistan, Iran Barat, dengan memanfaatkan kekuatan intelijen serta rudal-rudal berpresisi tinggi.

Pada Ahad lalu (9/9/2018) IRGC mengaku bahwa sehari sebelumnya telah menggempur sebuah markas yang menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin salah satu kelompok teroris anti Iran di wilayah Kurdistan, Irak, dengan tujuh rudal.

“Agkatan Udara bersama satuan Pasukan Pesawat Nirawak yang bernaung di bawah Angkatan Darat IRGC telah sukses menjalankan operasinya mengguncang tempat keberadaan dan perkumpulan para pemimpin salah satu kelompok teroris keji dan jahat serta markas pelatihan para teroris antek asing dengan tujuh rudal darat ke darat berjarak jelajah pendek,” ungkap IRGC saat itu.

Serangan ini menewaskan 15 orang, 6 di antaranya tokoh, dan melukai beberapa orang lainnya. (alalam/raialyoum)