Rangkuman Berita Timteng Jumat 13 April 2018

kapal perang rusia di tartusJakarta, ICMES: Rusia menggerakkan kapal-kapal perangnya dari pangkalan Tartus, Suriah, menuju kawasan lepas pantai untuk menghadang kapal-kapal perang pihak lain dan mencegat rudal-rudal yang mungkin dilesatkan sejumlah negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS), ke wilayah Suriah.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia menyatakan tidak dapat mengesampingkan kemungkinan konfrontasi militer langsung antara Rusia dan AS jika Suriah diserang.

Presiden Suriah Bashar Assad mengingatkan bahwa segala bentuk pergerakan Barat di kawasan sekitar Suriah pasti akan memperparah instabilitas Timteng.

Menhan Amerika Serikat (AS) James Mattis menegaskan kembali bahwa Pentagon masih belum memiliki bukti independen untuk mengkonfirmasi adanya serangan senjata kimia di Suriah pekan lalu.

Selengkapnya:

Antisipasi Kemungkinan Terburuk, Rusia Gerakkan Kapalnya Dari Tartus

Rusia menggerakkan kapal-kapal perangnya dari pangkalan Tartus, Suriah, menuju kawasan lepas pantai untuk menghadang kapal-kapal perang pihak lain dan mencegat rudal-rudal yang mungkin dilesatkan sejumlah negara Barat, terutama Amerika Serikat (AS), ke wilayah Suriah, sementara para pakar menilai tidak tertutup kemungkinan Suriah akan menghadapi sendiri rudal-rudal tersebut.

Dalam perkembangan ini Rusia juga mengintensifkan berbagai jenis kapal perangnya di Tartus untuk menghadapi kawanan bersenjata di Suriah, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggempur Suriah dengan dalih adanya dugaan penggunaan bom kimia oleh tentara Suriah.

Hasil pencitraan satelit Israel sebelumnya juga dilaporkan telah menangkap adanya pergerakan kapal-kapal Rusia tersebut, sementara sumber-sumber militer Perancis di Paris menilai pergerakan itu ditujukan supaya kapal-kapal itu dapat bergerak leluasa apabila nanti Moskow mengambil keputusan untuk berkonfrontasi dengan Washington terkait  Suriah.

Rusia meragukan manuver retorika Trump bahwa waktu untuk menyerang Suriah masih belum diputuskan. Sebab, AS memiliki beberapa pangkalan di Timteng,  dan kapal-kapal  Armada VI AS dapat melancarkan serangan ke Suriah dari jarak lebih dari 2500 kilometer. Selain itu, pesawat siluman pembom B2-Spirit milik AS juga hanya memerlukan waktu beberapa jam saja untuk melesat dari AS menuju Timteng, dan skenario inilah yang lebih kuat dibanding  skenario penantian tibanya kapal-kapal induk.

Ada ketidak jelasan di kalangan Barat mengenai kesiapan Suriah, namun diduga kuat bahwa Rusia telah membekali Suriah dengan rudal-rudal anti jet tempur jenis Pantsir-S1 dan S-400 serta memperkuatnya dengan sistem Polyana D4M1 sehingga Suriah akan menghadapi sendiri serangan Barat.

Pada pekan lalu Israel merudal Lanud T-4 milik Suriah. Dalam peristiwa ini tentara Suriah dapat merontokkan 5 dari 8 rudal yang dilesat oleh jet tempur F-15 Israel, dan ini merupakan angka yang relatif tinggi. (rayalyoum)

Rusia Mengaku Tak Dapat Mengesampingkan Kemungkinan Perang Dengan AS

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengimbau Amerika Serikat (AS) dan sekutunya agar mengurungkan rencana menyerang Suriah. Peringatan ini dia lontarkan sembari mengaku “tidak dapat mengesampingkan” kemungkinan konfrontasi militer langsung antara Rusia dan AS jika Suriah diserang.

Imbauan bernada keras itu dia nyatakan kepada wartawan usai rapat tertutup Dewan Keamanan PBB mengenai ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Suriah, Kamis (12/4/2018). Menurutnya, keberadaan tentara Rusia di Suriah akan membuat situasi akan menjadi lebih buruk jika Suriah diserang.

“Prioritas utamanya adalah menghindari bahaya perang. Kami berharap tidak akan ada titik tanpa harapan,” lanjutnya.

Ditanya apakah itu berarti perang antara Rusia dan AS, dia menjawab, “Kami tak dapat mengesampingkan kemungkinan apa pun, sayangnya, karena kami melihat pesan-pesan yang datang dari Washington. Mereka benar-benar suka berkelahi.”

AS dan para sekutunya mengancam akan menyerang Damaskus. Ancaman ini dihembuskan sejak 7 April lalu menyusul adanya laporan tendensius bahwa sebuah serangan yang diduga menggunakan senjata kimia telah menewaskan 60 orang dan melukai ratusan lainnya di kota Douma, Ghouta Timur, provinsi Damaskus, Suriah.

Kemungkinan terjadinya serangan AS terhadap Suriah meningkat pada Rabu lalu setelah Trump mengingatkan Rusia agar “bersiap-siap” menembak jatuh rudal AS yang akan “segera berdatangan” ke Suriah.

Namun esok harinya dana pernyataan Trump via Twitter menurun.

“Belum pernah dikatakan kapan serangan ke Suriah akan terjadi. Bisa jadi segera sekali, atau tidak segera sama sekali,” kicaunya. (presstv)

Ditemui Velayati, Assad Ingatkan Pergerakan Barat Di Kawasan Sekitar

Presiden Suriah Bashar Assad mengingatkan bahwa segala bentuk pergerakan Barat di kawasan sekitar Suriah pasti akan memperparah instabilitas Timteng.

Saat menerima kedatangan penasehat pemimpin besar Iran urusan internasional, Ali Akbar Velayati, dan rombongannya, Rabu (12/4/2018), Assad mengatakan, “Bersamaan dengan tercapainya berbagai kemenangan (tentara Suriah) di lapangan suara sebagian negara Barat meninggi dan pergerakan mereka meningkat untuk mengubah arus peristiwa. Suara dan pergerakan potensial ini tidak akan berperan apa-apa kecuali menambah instabilitas di kawasan, dan inilah yang mengancam perdamaian dan keamanan antarnegara.”

Di pihak lain, Velayati mengataka, “Dengan pengarahan langsung dari AS dan partisipasi puluhan negara,  perang sengit terhadap rakyat dan pemerintah Suriah telah dimulai tujuh tahun lalu, dan sekarang Suriah tidaklah lebih lemah dibanding tujuh tahun silam, dan AS juga tidak lebih kuat daripada 7 tahun silam.”

Dia melanjutkan bahwa rakyat, tentara, dan pemerintah Suriah kini memiliki pengalaman perang sehingga jauh lebih berkesiapan untuk menghadapi segala ancaman, sedangkan Trump di awal keterpilihannya sebagai presiden AS “telah membangkitkan keheranan dan sekarang membangkitkan olok-olok.”

“Kesolidan Suriah di salah satu perang terhebat melawan teroris serta tekad bangsa Suriah untuk menang meskipun perang ini didanai dan dipersenjatai oleh pihak asing merupakan teladan bagi setiap bangsa yang berkemungkinan terancam oleh perang serupa,” ujar Velayati.

Dia memastikan bahwa kerjasama Suriah-Iran akan efektif bagi upaya mencegah pengaruh AS dan Zionis di kawasan, dan agresi Israel terhadap Suriah ditujukan untuk meruntuhkan status Suriah selama ini sebagai salah satu mata rantai utama Poros Resistensi. (alalam)

Menhan AS Akui Tak Ada Bukti Suriah Gunakan Senjata Kimia

Menhan Amerika Serikat (AS) James Mattis menegaskan kembali bahwa Pentagon masih belum memiliki bukti independen untuk mengkonfirmasi adanya serangan senjata kimia di Suriah pekan lalu, tetapi dia mengaku bahwa secara pribadi dia percaya serangan itu terjadi.

“Saya percaya ada serangan kimia. Kami mencari bukti yang sebenarnya, ”katanya kepada anggota parlemen AS di Washington, Kamis (12/4/2018).

Dia menilai misi pencarian fakta oleh Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) dapat tiba di lokasi dugaan serangan itu di kota Douma “dalam seminggu,” tetapi dia menekankan bahwa mandat inspektur akan terbatas untuk menetapkan apakah senjata kimia digunakan di lokasi atau tidak.

Dia menuduh Rusia dan Suriah menghalangi penyelidikan, meskipun Suriah mengundang para inspektur OPCW ke sana.

“Karena setiap hari berlalu – Anda tahu itu adalah gas yang tidak konstan – ini menjadi semakin sulit untuk mengonfirmasikannya,” katanya.

Mattis mengatakan AS dapat menggunakan aksi militer lagi, seperti yang dilakukan setelah insiden tahun lalu, tetapi harus mempertimbangkan gambaran yang lebih luas dalam reaksinya.

“Kami mencoba menghentikan pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah. Tetapi pada tingkat strategis, bagaimana kita menjaga hal ini agar tidak meningkat di luar kendali, jika Anda hanyut dalam hal itu, ”jelasnya. (rt)