Rangkuman Berita Utama Timteng, Senin 10 April 2017

sistem rusiaJakarta, ICMES: Seorang pakar Jerman menyatakan Rusia telah menggunakan sistem canggih untuk menceburkan rudal Tomahawk AS ke Laut Tengah ketika ditembakkan ke pangkalan udara Shayrat milik Suriah.

Presiden Suriah Abdel Fattah el-Sisi mengumumkan situasi darurat untuk jangka waktu tiga bulan pasca serangan bom ISIS terhadap dua gereja yang menewaskan puluhan orang.

Pasukan Irak berhasil membebaskan satu lagi kawasan di Mosul barat, dan demikian maka sebanyak 75% bagian barat kota di Irak utara ini telah bebas dari pendudukan kelompok teroris ISIS.

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan AS bermaksud mendongkrak mental para teroris dalam memerangi Suriah.

Berita selengkapnya;

Pakar Jerman: Rusia Ceburkan Rudal Tomahawk AS ke Laut Tengah

Beberapa media Jermen menyebutkan bahwa jumlah rudal yang ditembakkan oleh dua kapal perang Amerika Serikat (AS) menuju pangkalan udara Sheyrat bertengger pada angka “di atas 60 rudal”. Sebelumnya, Kemhan AS Pentagon menyatakan, “Kami telah meluncurkan 59 rudal ke arah pangkalan udara itu.”

Pangkalan udara Suriah di Homs ini diketahui tidak mengalami kerusakan besar yang sepadan dengan jumlah rudal tersebut, dan hanya dalam tempo beberapa jam setelah serengan itu jet-jet tempur Suriah masih dapat menggunakannya untuk lepas landas.

Landasan pacu bandara itu masih utuh, dan ini praktis mementahkan narasi AS mengenai tingkat kerusakan dan kerugian di sana. Kalau AS memang melepaskan 59 rudalnya yang diklaim telah menghantam landasan pacu bandara Shayrat lantas ke manakah rudal-rudal jelajah itu meluncur?

Sumber-sumber Firil Center For Studies (FCFS), AS, mengutip  keterangan mencengangkan dari pakar pertahanan elektronik Jerman.

Pada jangka waktu yang sangat pendek sebelum dimulainya serangan rudal itu Washington telah memberitahukan Moskow, supaya tak ada kesempatan bagi Moskow kecuali menarik orang-orangnya dari bandara itu, dan mencegah penggunaan sarana pertahanan apapun untuk menghadang rudal. Namun apa yang terjadi ialah AS memulai serangan setelah penarikan para ahli Rusia dan Suriah bersama dengan perlengkapan dan jet-jet tempur mutakhir. Karena itu tahap pertama sistem pertahanan tradisional Suriah dapat merontokkan sejumlah kecil di antara rudal itu, sementara 23 rudal masuk menerobos pagar bandara,” ungkap sumber anonim ini.

Ditanya mengenai apa yang terjadi setelahnya, pakar Jerman ini menjawab, “Tentara Rusia menggunakan perang elektronik dengan mengirim gelombang elektromagnetik yang menyebabkan beralihnya arah rudal-rudal Tomahawk yang sebagian besar di antaranya jatuh di Laut Mediteranian sebelum mencapai daratan.”

Ketika diminta memberikan penjelasan lebih memuaskan, dia tersenyum sambil berkata, “Rusia di Suriah menggunakan sistem perang elektronik baru Krasuha-4 yang merupakan sistem pertahanan elektronik tercanggih di dunia, dan sebelumnya pernah menyebabkan terjadinya gangguan pada radar jet-jet tempur AS dan pesawat Awacs. NATO memiliki DIRM, DRFM dan lain-lain yang merupakan sistem elektronik yang digunakan untuk menyerang rudal-rudal lawan. Tapi sistem Rusia Krasuha-4 lebih unggul.”

Dia menambahkan, “Dalam serangan rudal AS terhadap bandara Shayrat Washington menggunakan Tomahwak yang dijalankan dengan sistem TLAM/D yang mengandung 166 bom kluster yang dikhususkan untuk menghantam instalasi-instalasi industri, stasiun minyak tanah, pusat-pusat komando, menyerang pesawat-pesawat yang didesain dengan dinding anti bahan peledak, posisi-posisi radar, posisi-posisi rudal darat ke udara, dan lain-lain. Tapi apa yang telah dilakukan dengan mudah oleh sistem perang elektronik Krasuha-4 ialah mendeaktivasi GPS. Ini saja sudah cukup untuk menciptakan kebutaan geografis, dan dapat pula menonaktifkan semua sistem INS, TERCOM, DSMAC pada Tomahawk, hingga jatuhlah rudal-rudal AS lainnya ke laut.”

Masih dengan tersenyum pakar Jerman ini melanjutkan, “Sistem Krasukha dapat memberikan target-target palsu kepada rudal yang dikendalikan dengan radar itu, lalu Washington mengira berhasil merealisasikan tujuannya.” (sputnik)

Pasca Bom Gereja, Mesir Umumkan Situsisi Darurat Tiga Bulan

Presiden Suriah Abdel Fattah el-Sisi mengumumkan situasi darurat untuk jangka waktu tiga bulan pasca serangan bom ISIS terhadap dua gereja, masing-masing di Tanta dan Alexandria, Mesir, yang menewaskan 44 orang dan melukai 126 lainnya.

“Ada beberapa tindakan akan yang dilakukan, terutama pengumuman situasi darurat untuk jangka waktu tiga bulan, setelah dilakukannya tindakan-tindakan legal dan konsitusional… Kami mengumumkan situasi darurat demi melindungi dan menjaga negeri kami,” ungkap el-Sisi usai pertemuan dengan Dewan Pertahanan Nasional Mesir di Istana al-Ittihadiya, Kairo, Minggu malam (9/4/2017).

Tanpa menyebutkan nama negara, El-Sisi menyerukan “perhitungan (hukuman/pembalasan) terhadap negara-negara” yang mendukung dan mendanai teroris.

Dengan nada geram dia mengatakan, “Kami berada dalam kondisi konfrontasi panjang, kontinyu, dan menyakitkan, dan padanya jatuh banyak korban dari pihak tentara, polisi, hakim dan warga (Kristen) Koptik Mesir.”

Di tengah para menteri dan perwira tinggi angkatan bersenjata Mesir, el-Sisi menyerukan kepada bangsa Mesir, “Teguhlah, solidlah, kami dapat mengalahkan para teroris dan pengacau.”

Di pihak lain, kelompok teroris takfiri ISIS menyatakan bertanggungjawab atas serangan terhadap dua gereja yang terjadi Ahad kemarin tersebut, dan mengancam akan melancarkan serangan lanjutan dengan lebih sengit terhadap warga Kristen Mesir.

“Biarlah para salibis dan orang-orang murtad membayar tagihan besar berupa darah anak-anak mereka,” bunyi statemen ISIS.

Kelompok bejat ini menyatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh dua anggotanya yang berkewarganegaraan Mesir dan menyamar dengan mengenakan seragam polisi dalam operasi serangan bom bunuh diri.

Situasi darurat diumumkan pemerintah Mesir untuk wilayah Sinai sejak Oktober 2014 yang sampai sekarang masa berlakunya selalu diperpanjang setiap tiga bulan.  (rayalyoum)

 75% Mosul Barat Bebas, 14 Teroris Bom Bunuh Diri ISIS Tewas

Pasukan Irak, Ahad sore (9/4/2017), berhasil membebaskan satu lagi kawasan di Mosul barat, dan demikian maka sebanyak 75% bagian barat kota di Irak utara ini telah bebas dari pendudukan kelompok teroris ISIS.

Masjid al-Nuri dan menara kuno al-Hadba telah dikepung total oleh pasukan Irak, sementara jet tempur Irak berhasil menghabisi 14 pasukan bom bunuh diri ISIS di provinsi Anbar.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Nineveh menjelaskan bahwa dewasa ini 75% Mosul barat telah bebas, sementara Masjid al-Nuri, masjid terkenal yang dipakai oleh gembong ISIS Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan “kekhalifahan” ISIS pada 2014 serta menomen sejarah Menara al-Hadba telah dikepung secara total oleh pasukan Irak.

Menurutnya, operasi militer Irak untuk pembebasan Mosul berjalan sesuai rencana, tapi dia mengakui mengalami keterlambatan masuk ke bagian kota lama Mosul karena demi “menjaga keselamatan jiwa warga sipil.”

Dia merinci bahwa ISIS dewasa ini masih menduduki beberapa kawasan di sana, termasuk al-Zanjali, Bab al-Jadid, area rumah sakit, dan sejumlah kawasan pinggiran Mosul barat.

Menurut pengumuman kepala bidang perang Irak, al-Matahin adalah kawasan terbaru yang berhasil dibebaskan pasukan Irak, Minggu.

Bersamaan dengan ini, beberapa jet tempur Irak menggempur kota kecil al-Qaim  di wilayah perbatasan provinsi Anbar hingga menghancurkan sebuah bengkel pembuatan bom mobil dan menewaskan 14 teroris ISIS pembawa misi serangan bom bunuh diri. (alsumarianews)

Rouhani dan al-Assad: AS Ingin Dongkrak Mental Teroris

Presiden Iran Hassan Rouhani mengungkapkan dukungannya kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad, Sabtu malam lalu (8/4/2107).

“Republik Islam Iran menganggap serangan AS pelanggaran terhadap undang-undang internasional dan Piagam PBB, dan mengecamnya… Bangsa Iran berdiri bersama bangsa Suriah dalam perang melawan teroris dan membela persatuan dan keutuhan wilayah Suriah,” ungkap Rouhani dalam kontak telefon dengan al-Assad.

Dia menilai tuduhan Suriah menggunakan senjata kimia ke kota Khan Shekhoun pekan lalu “sama sekali tidak benar.”

“Menggunakan senjata kimia adalah perbuatan yang tak termaafkan, dan serangan itu ditujukan untuk mengalihkan perhatian dunia dari fakta yang sesungguhnya di Suriah…  Serangan AS datang setelah para teroris kalah dan porak poranda, dan merupakan upaya mengangkat mental mereka serta melemahkan mental tentara dan rakyat Suriah,” lanjut Presiden Iran.

Rouhani menyerukan penguatan koordinasi segi tiga Iran, Suriah dan Rusia.

“Salah besar orang yang mengira akan dapat mengubah masa depan Suriah dengan cara menyokong terorisme,” tegasnya.

Sebelumnya, Rouhani menyatakan negaranya siap menghadapi segala kemungkinan menyusul serangan rudal Tomahawk AS terhadap pangkalan udara Shayrat di Suriah.

Di pihak lain, Presiden Suriah Bashar al-Assad menegaskan AS tak berhasil mencapai tujuannya dalam serangan itu.  Dia mengatakan, “Tujuan itu tak lain mengangkat mental gerombolan-gerombolan teroris yang didukungnya setelah tentara Suriah mencetak banyak kemenangan. Rakyat dan tentara Suriah bertekad menumpas teroris di setiap bidang tanah Suriah.”

Dia kemudian menyatakan apresiasinya kepada para pemimpin dan rakyat Iran yang terus menerus mendukung bangsa Suriah melawan terorisme yang digalang oleh sejumlah negara Barat dan regional. (rayalyoum/sana)