[Jurnal] Timur Tengah yang Bebas Nuklir, Jauh Panggang dari Api

Artikel ini merupakan intisari dari jurnal di The International Spectator: Italian Journal of International Affairs yang berjudul A Nuclear-Free Middle East –Just Not in the Cards, yang dipublikasikan secara online pada 30 April 2012 di tautan ini: http://dx.doi.org/10.1080/03932729.2012.667598. Perspektif, analisis, dan kesimpulan yang dilakukan penulis jurnal tidak mencerminkan sikap ICMES. Pemuatan artikel ini bertujuan untuk mempelajari model-model analisis yang dilakukan para ilmuwan dari berbagai latar belakang, dengan tujuan akademis. Selanjutnya, ICMES akan membuat tulisan [Commentary] yang berisi tanggapan ilmiah atas artikel paper ini.

nuklirTimur Tengah yang Bebas Nuklir, Jauh Panggang dari Api

Liviu Horovitz dan Roland Popp

Ada harapan baru bahwa kemajuan bisa dicapai dalam topik senjata nuklir yang menantang ini. Sayangnya, walau bagaimanapun juga prospek ini terlihat agak suram. Sebuah wilayah yang mudah memanas dan rawan perang, ada banyak konflik yang mendalam, lalu adanyanya ancamaman konfrontasi ideologi transnasional, Timur Tengah dianggap membuka peluang besar digunakannya senjata nuklir. Di masa lalu, Irak dan Mesir telah menggunakan senjata kimia. Israel, satu-satunya pemiliki nuklir di kawasan tersebut, diyakini telah menggunakan arsenal setidaknya dua kali. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa upaya untuk melenyapkan senjata nuklir di Timur Tengah telah berlangsung selama empat dekade. Namun hingga kini, tidak ada hasil mengembirakan yang bisa diraih.

Kini Arab Spring meletus, dan merupakan proses fundamental yang telah mengubah wajah Timur Tengah. Diktator jatuh, dan si demokrasi keluar sebagai pemenang, yang akan menyebabkan munculnya kebijakan luar negeri baru. Sebuah zona demokratis perdamaian dan kemakmuran bisa segera diimplementasikan oleh pembuat kebijakan regional dan internasional. Namun nampaknya, optimisme tersebut mengabaikan sejumlah masalah strategis yang butuh perhatian khusus dari pemerintah.

Perundingan pelucutan senjata regional tidak dapat dilakukan sebelum aktor utama tertarik untuk menemukan solusi untuk nuklir Iran. Selanjutnya, upaya perundingan apapun akan menjadi mubazir jika Israel tidak memililki niat untuk memusnahkan senjata nuklirnya. Jika begini, Arab Spring mungkin tidak akan menghasilkan banyak harapan. Karena itulah, masyarakat internasional harus berkonsentrasi pada masalah yang peluang keberhasilannya lebih besar, bahkan jika bisa, mendamaikan Israel dan Palestina.

Kepentingan Strategis dan Program Nuklir Iran

Setelah sembunyi-sembunyi melakukan eksplorasi nuklir selama hampir dua dekade, akhirnya tahun 2003 program nuklir Iran pun terekspos. Para ahli nuklir Iran mungkin telah meneliti senjata berteknologi nuklir, namun tidak ada cukup bukti apakah Iran benar-benar memutuskan untuk membuat senjata nuklir. Meskipun adanya tekanan dari Amerika Serikat (AS), mediasi oleh Eropa dan investigasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran secara perlahan tapi pasti telah melangkah jauh dalam penguasaan teknologi. Harapan membumbung tinggi ketika Barack Obama terpilih menjadi presiden. Namun solusi atas kasus ini yang masih jauh dari jangkauan.

Pandangan konvensional berpendapat bahwa Iran berniat menggunakan bom untuk memperluas pengaruh regional untuk menghadapi Israel. Orang-orang yang meyakini kiamat memprediksi bahwa nuklir Iran vis a vis Israel merupakan awal dari bencana.

Sebenarnya, tindakan Iran yang jauh lebih baik jika dijelaskan dengan pertimbangan yang hati-hati. Menakar perhitungan biaya dan manfaat, kepentingan strategis dan sistem pemerintahan.

Setelah AS menjatuhkan saingan Teheran di Baghdad dan Kabul, kesempatan besar pun terbuka untuk Iran dalam angka jumlah populasi, ekonomi, ataupun upaya memperluas pengaruh di kawasan. Iran juga memiliki kemampuan untuk mempromosikan kepentingan-kepentingannya tanpa mengaitkan dengan isu nuklir. Memang, tindakan pemerintah Iran saat ini tidak begitu berbeda dengan dari yang dilakukan oleh Shah pada tahun 1970-an.

Permusuhan antara Iran dan Israel dapat membantu mencapai tujuan politik kedua negara, dan musuh utama Iran tetaplah AS. Iran memandang bahwa kemajuan nuklir bisa akan mempengaruhi hegemoni AS. Dari perspektif Iran, AS terus menolak mengakui Iran sebagai pemain regional yang penting, yang memiliki gudang atom dengan potensi menghambat proyek-proyek yang digarap AS.

Sejauh ini, respon Barat telah terombang-ambing. Mereka telah menjatuhkan sanksi untuk melumpuhkan Iran sehingga bisa mengganti pemerintahan yang anti Barat tersebut. Pemerintahan Obama sendiri tidak pernah serius untuk menyiapkan kesepakatan besar. Sementara retorika damai yang digadang-gadang, sebenarnya bertujuan untuk memupuk dukungan internasional terkait sanksi tambahan. Pendekatan strategis AS kadang-kadang disebut ‘kesabaran strategis’ dalam menghadapi kebuntuan nuklir Iran, padahal sebenarnya yang dibutuhkan adalah negosiasi yang lebih serius, atau sebaiknya, terjadi perubahan rezim.

Proliferasi, Perdamaian dan Senjata Israel

Kurangnya solusi untuk program nuklir Iran merupakan alasan yang kuat untuk melakukan pelucutan senjata nuklir Israel. Kekuatan militer Israel tak terbantahkan di Timur Tengah, dan negara ini berulang kali menyatakan bahwa negosiasi nuklir hanya bisa dimulai ketika semua negara-negara lain di kawasan menyerah atas ambisinya memiliki senjata nuklir. Selain itu, Israel menyatakan syarat kedua untuk membahas nuklir arsenal adalah adanya pengakuan eksistensinya sebagai suatu negara dan disepakatinya perjanjian damai yang komprehensif. Tentu saja syarat ini sangat sulit dipenuhi. Sangat mustahil mengharapkan Iran melepas begitu saja ambisinya mengayakan nuklir.

Artinya, ada bukti bahwa:

  • Israel tertarik untuk berkompromi demi perdamaian.
  • Israel mempertimbangkan untuk ‘menukar’ nuklir arsenal dengan perundingan pencarian solusi.
  • Israel memerlukan tawar menawar yang melibatkan senjata nuklir.
  • Isrel akan menyerah pada senjata nuklirnya setelah perdamaian tercapai.

Pertama, telah 20 tahun berlalu sejak perdamaian Oslo adalah bukti bahwa mulai tumbuh optimisme untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel melalui jalur negosiasi. Mengingat dukungan besar AS untuk Israel, setidaknya diharapkan adanya perubahan dalam jangka menengah.

Kedua, ada keraguan dari klaim Israel bahwa mereka bersedia membarter program nuklir dengan perdamaian regional. Proses yang dilakukan oleh Arms Control and Regional Security pada tahun 1990-an telah gagal karena Israel bahkan enggan membahas senjata nuklirnya. Dan dalam konteks perjanjian Oslo, Israel bahkan tidak sedikitpun menyinggung kompromi terkait masa depan Palestina. Dalam ruang lingkup keamanan, ketulusan atau kepura-puraan, bukanlah pertanda baik, melainkan harus ada perjanjian mengikat hitam di atas putih.

Ketiga, ada sedikit alasan untuk meyakini bahwa pelucutan senjata Israel adalah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai perdamaian negara Yahudi tersebut dengan tetangga-tetangganya di Timur Tengah. Memang, hasil itu mungkin hanya bisa tercapai pada dalam konteks adanya kesepakatan bilateral Israel dan Palestina, juga dengan Suriah yang melibatkan Dataran Tinggi Golan. Namun, senjata nuklir tidak memainkan peran penting dalam kesepakatan damai yang melibatkan Yordania atau Mesir, atau dalam Inisiatif Perdamaian Arab.

Akhirnya, untuk sementara senjata nuklir Israel masih banyak dirasakan (dan diterima) sebagai sebuah pilihan terakhir, tidak peduli adanya perjanjian perdamaian atau tidak. Dan walaupun tidak memiliki musuh kasat mata dengan senjata nuklir, namun Israel telah berinvestasi besar-besaran untuk mengembangkan senjata nuklir di kapal selam, rudal dan bom, jauh melampaui apa yang pernah diprediksikan. Sebagaimana Inggris dan Perancis, yang mempertahankan senjata nuklirnya untuk mencegah adanya ancaman yang tidak terduga, maka bagi Israel pun, pelucutan senjata dianggap bukan sebagai hal yang diperlukan, baik kini ataupun di masa depan.

Optimisme yang Tidak Beralasan dan Arab Spring

Arab Spring benar-benar mengguncang Timur Tengah dan menghadirkan harapan baru untuk kesempatan yang lebih baik dalam mengatasi masalah nuklir. Namun bukti sejarah menunjukkan bahwa gejolak daerah yang berkepanjangan adalah dampak lain dari Arab Spring, dan demokrasi belum tentu benar-benar merupakan hasil akhir. Bagaimanapun juga, Arab Spring menghasilkan ketidak-stabilan dan ketidak-seimbangan dan mungkin akan berubah menjadi Perang Dingin Arab. Mengingat prospek semakin intensifnya persaingan di Timur Tengah, pelucutan senjata nuklir nampaknya tidak cocok untuk perkembangan regional di tahun-tahun mendatang.

Di Timur Tengah, setiap terjadi revolusi sejak Perang Dunia II disebabkan adanya transformasi internal. Contohnya, pengambil-alihan Mesir oleh pan-Arab nasionalis radikal di awal 1950-an, revolusi di Iran pada tahun 1979, ataupun pergerakan Mesir yang mengarah melakukan perdamaian dengan Israel pada tahun 1970-an, semua peristiwa itu diikuti oleh dampak yang berlarut-larut. Seringkali, titik balik tersebut menimbulkan adanya intervensi eksternal, misalnya intervensi yang dilaukan NATO terhadap Libya sehingga dibentuknya zona demokrasi damai sebagaimana prototipe Barat tidak akan bisa tercapai. Mungkin akan ada indikator positif bagi transisi demokrasi dan perwakilan pemerintah, namun ada pula yang akan berkembang menjadi entitas semi demokratis atau kekuatan yang kembali pada bentuk pemerntahan otoriter. Namun demikian, terlepas dari konstitusi internal mereka, pemerintah Arab yang baru akan mengejar kebijakan luar negeri yang lebih selaras dengan sentimen dari mayoritas populasi mereka. Dengan demikian, akan jauh lebih sulit bagi para pemimpin Arab untuk menjadi ‘bawahan’ AS. Akhirnya, Arab Spring seperti ini pada gilirannya cenderung menghasilkan konflik.

Terpinggirkan sejak tahun 1980-an, Mesir berusaha untuk meraih posisinya sebagai kekuatan inti regional. Turki baru-baru ini menjauh dari ‘posisi budak’ Washington dan menjadi aktor regional yang lebih aktif dan ambisius. Mengingat prasyarat ekonomi dan strategis, tidak jelas apakah apakah Kairo akan dapat meniru Ankara. Meski demikian, kalaupun Washington masih bisa mengenggam Mesir, para penguasa Kairo akan sulit ditekan untuk mempertahankan kebijakan Mubarak terhadap Israel. Hasil yang lebih mungkin adalah adanya permusuhan yang meningkat terhadap Israel, sebagai dampak serangan terhadap Kedutaan Besar Israel di Kairo dan adanya serangan bertubi-tubi pada pipa minyak Israel.

Akhirnya, Mesir harus berhasil menegaskan kembali peran utamanya di regional, dan mungkin akan terjadi persaingan antara tiga negara di kawasan tersebut yang paling banyak penduduknya yaitu Turki, Iran dan Mesir. Hubungan Turki-Iran memburuk pasca meletusnya Arab Spring. Selama bertahun-tahun mendatang, Timur Tengah akan menghadapi ketidak-stabilan, dan akan mendorong tekanan bagi pemerintah negara setempat untuk mempertahankan ataupun memberoleh hak untuk mengayakan senjata nuklir. Akibatnya, pertimbangan untuk melakukan lucutan senjata secara serius bahkan akan menurun dibandingkan yang terjadi di masa lalu.

Harapan dan Kemungkinan

Tidak ada aktor utama yang bekerja serius untuk melucuti senjata nuklir. Karena itulah, kita harus memperluas pilihan yang tersedia, misalnya dengan melakukan pengawasan terhadap senjata nuklir yang harus ditingkatkan. Mengharapkan zona bebas nuklir sangat tidak cocok untuk kondisi saat ini.

Jika masyarakat internasional ingin menstabilkan wilayah tersebut, maka sekaranglah saaatnya untuk menekan perdamaian antara Israel dan Palestina sebelum terlambat. Harus ada pendekatan two-state-solution jika upaya damai sia-sia belaka.

Upaya AS yang gagal di masa lalu harus dipertanyakan. Apakah posisi AS sebagai mediator utama masih kita butuhkan? Diplomasi AS dan Eropa berlalu tanpa hasil, sehingga perlu kiranya kita mengajak pemain baru seperti Brasil, India, atau Tiongkok agar turut berpartisipasi. Stabilitas di Teluk Persia dan Timur Tengah pada umumnya, bukan lagi harus dijaga demi kepentingan pihak tertentu, melainkan harus diupayakan demi kepentingan global.

—-

Tanggapan atas jurnal ini: [Commentary] Iran, Israel, dan Standar Ganda yang Terabaikan