Layang-layang Embargo

embargoOleh: Purkon Hidayat*

Dolar dan euro berbentuk kapal udara kertas berhamburan menembus angkasa biru. Lalu sebuah tulisan “Perang valuta asing!” Inilah cover story majalah ekonomi Iran, Eghtesad, Rabu (5/12).

Majalah ini, termasuk yang tenar di Teheran, tidak berlebihan. Ibarat perang, rial, mata uang Iran, kini berdarah-darah. Penyebabnya? Apalagi jika bukan karena gempuran dolar dan euro. Pada Kamis (6/12), misalnya, dolar kukuh di level 29.300 rial (setara Rp22.900), sementara euro setara 39.000 rial. Angka itu melambung dari harga resmi yang dipatok Pemerintah Iran sekitar enam bulan silam, yakni 12.260 rial/dolar dan 15.110 rial/euro.

Media-media Barat dan sejumlah negara di Teluk umumnya menggambarkan gejolak rial dengan cobek politik yang kental propaganda. Ada berita Teheran diambang kekacauan massal dan krisis pangan. Ada pula sassus perkelahian dan rusuh di sejumlah pintu loket bank. Orang digambarkan saling sikut untuk sekadar bisa menukarkan dolar atau euro.

Faktanya? Jauh dari itu. Memang, untuk menukarkan dolar atau euro, lebih susah saat sekarang ini. Turis-turis asing utamanya. Dompet mereka boleh tebal, tapi teramat susah mencari money changer yang mau melayani penukaran dolar.
Berbeda dengan Jakarta di 1998, pemerintah di Teheran berhasil memaksakan pengetatan operasi money changer. Di sisi lain, para pedagang bazar seperti kompak menolak melayani transaksi dalam dolar sebagai solidaritas pada upaya pemerintah meredam ulah buas spekulan.

Hingga hari ini, prioritas penukaran dolar lebih diberikan pada kalangan perdagangan dan importir bahan pokok. Kendati menyusahkan, langkah ini banyak membantu Teheran mengontrol gerak liar dolar yang sempat bertengger di kisaran 37.000 beberapa pekan silam.

Kendati, harus diakui, sanksi Amerika dan Eropa membawa dampak yang memukul. Pelarangan transaksi bank-bank Iran dengan bank di luar negeri menjadikan orang Iran kesulitan mengimpor barang. Seperti bisa ditebak, sanksi ini berujung pada lonjakan tak terkendali harga barang-barang impor, semisal obat-obatan. Dilaporkan sejumlah pasien harus meregang nyawa karena minimnya suplai obat-obatan penyakit khusus seperti penyakit talasemia, hemophilia, dan hepatitis.

Dalih Palsu

Kalangan pengamat umumnya sependapat gejolak rial hanyalah bumbu dari upaya Barat menekan Teheran agar menghentikan program nuklir yang dicurigai mengarah pada tujuan militer.

Di forum-forum internasional, pejabat Iran gencar membantah semua tuduhan itu. Mereka bilang program nuklir Iran bertujuan damai, antara lain untuk pembangkit listrik dan radioisotop bagi pengobatan kanker dan penyakit kronis. Toh, kata mereka, tak pernah ada bukti Iran ingin memproduksi senjata nuklir. Di luar itu, Iran adalah bagian dari negara penandatangan traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Dua hal itu menjadikan Iran berhak, sebagaimana ratusan negara lainnya, menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Di Iran, gelombang sanksi Barat mengukuhkan pandangan perlawanan di tengah masyarakat. Toh mereka dengan mudah melihat standar ganda Barat yang tak pernah sekalipun mengusik Israel yang punya ratusan hulu ledak nuklir. Tak heran jika banyak yang menduga ini hanya akal-akalan meredam geliat pembangunan di Iran. “Alasan utama di balik sanksi anti-Iran bukan masalah nuklir, melainkan perlawanan bangsa Iran terhadap hegemoni global,” kata Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, belum lama ini.

Suka ataupun tidak, sejak Revolusi 1979, Iran perlahan menjadi negara yang mampu berdiri sejajar dan bahkan mengalahkan banyak negara lainnya. Dalam soal riset dan teknologi, misalnya, Iran termasuk di antara sedikit negara yang menguasai soal teknologi nuklir, peluncuran satelit, nanoteknologi, dan produksi alat canggih sistem persenjataan, dari kapal selam hingga rudak antarbenua. Dalam soal politik, Iran kini menjadi kekuatan vital dan penentu di Timur Tengah dengan pengaruh politik membentang jauh hingga ke negara-negara latin di Amerika Selatan. Di dalam negeri, mereka juga berhasil memacu pertumbuhan industri di seluruh lini plus mendorong pemerataan kemakmuran. Yang terakhir tampaknya jawaban atas sistem kapitalisme yang lebih berpihak pada kalangan berdompet tebal.

Meredam Tsunami Sanksi

Tapi, bagaimana jurus Iran keluar dari kungkungan sanksi Barat? Tak ada jawaban cespleng. Tapi jika kerja pemerintah di Teheran dalam beberapa tahun terakhir jadi rujukan, Iran tampaknya telah memilih langkah strategis.

Pertama, ada isyarat kuat pemerintah berupaya mengubah sanksi menjadi peluang untuk berbenah dan mandiri, yakni dengan meningkatkan produksi nasional sekaligus membebaskan diri dari rantai ketergantungan pada pendapatan minyak mentah. Data teranyar yang dirilis oleh kantor bea cukai Iran menunjukkan total volume perdagangan luar negeri Iran selama delapan bulan pertama tahun kalender Iran saat ini (mulai 20 Maret 2012) mencapai US$65.326 miliar.

Kedua, secara sosiologis masyarakat Iran adalah kaum Bazaari, masyarakat pedagang, yang punya seribu cara untuk menciptakan dan memanfaatkan peluang, bahkan di pusaran sanksi sekalipun. Ketika sanksi Barat menutup akses transaksi perbankan Iran dengan masyarakat internasional, Iran beralih menggunakan emas, mengadopsi sistem barter, dan menggunakan mata uang lokal sebagai alat transaksi perdagangan antarnegara.

Kantor Berita Reuters, Kamis (29/11), melaporkan Iran menggunakan emas dalam berbagai transaksi internasional termasuk dengan tetangganya Turki. Sebelumnya, dengan cara yang bermiripan, Iran sepakat menggunakan mata uang lokal dalam ekspor-impor minyak dengan India dan Cina. Dengan cara ini Iran sekaligus melancarkan perlawanan terhadap dominasi dolar dan euro sebagai mata uang standar internasional.

Perang tampaknya masih panjang. Di satu sisi, Barat kukuh dengan tekanan saksi dan aneka ancaman pengucilan. Di sisi lain, Iran berkeras tak mundur dari apa yang telah menjadi haknya dalam penguasaan teknologi nuklir. Entah siapa yang bakal takluk. Jalannya peperangan sejauh ini membawa beragam kisah pada mereka yang ingin memetik pelajaran.

*Pernah dimuat di Sindo Weekly